Kolaborasi YAKG X Gayo Harvest Coffee: Bisnis Kopi Pemuda untuk Keberlanjutan Kopi Gayo
Dengan program Kewirausahaan & Ekonomi Kopi, Yayasan Anak Kopi Gayo bekerja sama dengan Gayo Harvest Coffee untuk memperkenalkan praktek bisnis kopi yang berkelanjutan. Tujuan utamanya adalah untuk memberikan pelatihan dan business mentorship kepada 15 peserta yang terdiri dari perempuan dan anak-anak muda Gayo.
Cerita dan Pengalaman Hendrika FauziKolaborasi ini berlangsung di kantor Gayo Harvest Coffee, tepatnya di Jongok Meluem, Aceh Tengah. Kegiatan yang dilakukan pada 14 Agustus 2025 ini bertujuan untuk mempertemukan anak-anak muda yang ingin belajar mengenai bisnis kopi berkelanjutan dengan para praktisi yang sudah memiliki pengalaman.
Hendrika Fauzi, selaku Direktur Gayo Harvest Coffee, membagikan pengalamannya tentang awal mula bisnis kopi yang dijalankannya. Berawal dari keluarga Hendrika Fauzi sendiri yang mayoritas adalah petani kopi. Lalu sebelumnya pernah bekerja sebagai ICS (Internal Control System) di sebuah koperasi di Aceh Tengah. Dari pengalaman itulah, pria lulusan agribisnis ini mulai mantap untuk meniti karir di bidang kopi.
Dari langkah dan pemikiran strategis ini, Hendrika Fauzi berhasil melakukan ekspor pertamanya ke Taiwan. Bahkan hingga kini ia berhasil membuka gudang dan processing berbasis speciality sendiri. Dan baru-baru ini, Hendrika mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pameran World Coffee di Eropa.
Tantangan Berbisnis Kopi di Gayo
Dalam sesi sharing, Hendrika juga menambahkan bahwa tantangan umum yang dihadapi para pebisnis kopi pemula. Yaitu menjaga kualitas kopi agar konsisten. Hal ini karena sebagian besar prosesor kopi di tingkat kolektor desa jarang mengikuti pelatihan post harvest management, cupping untuk mengetahui defect, dan lainnya.
Oleh karena itu, sebagian besar pelaku usaha kopi pemula lebih memilih membeli kopi dari kolektor dalam bentuk gabah atau green bean. Bukan tanpa sebab, bila mereka membeli dalam bentuk cherry (gelodong), diperlukan investasi untuk logistiknya. Seperti gudang, lantai jemur, mesin penggiling kopi, dan lainnya.
Menurut Hendrika, hal pertama yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan utama ini adalah meningkatkan pengetahuan. Baik itu secara teori maupun praktik di lapangan.
Kedua, pebisnis kopi pemula juga memerlukan modal yang cukup tinggi. Bahkan tidak jarang terjadi persaingan yang cukup pelik antar pembeli lokal.
Ketiga, harus menguasai literasi keuangan dasar. Seperti menghitung hpp, gross profit, net profit, yang rata-rata semuanya masih dihitung secara manual. Kurangnya literasi dasar ini menjadi satu alasan mengapa harga kopi seringkali ditentukan oleh harga yang beredar di pasaran. Bukan dari kelayakan kopi tersebut.
Keempat, rendahnya end-customer-targeted product. Faktanya, hampir 90% kopi Gayo hanya untuk ekspor saja. Sementara peluang untuk menyasar end consumer dan memanfaatkan digital marketing dan ecommerce lebih menjanjikan daripada hanya diekspor dan hanya dijual di dalam negara saja.
Hal ini juga bisa terjadi karena rendahnya angka regenerasi pertanian. Berdasarkan data yang ada, angka petani muda usia produktif saat ini berada di kategori sangat rendah. Dan bisa diprediksikan bahwa di tahun 2050 nanti kopi Gayo akan terancam punah, jika tidak ada intervensi untuk mendorong regenerasi petani.
Sayangnya, sebagian besar anak muda yang terjun dalam bisnis kopi menyasar sistem hilir, seperti eksportir dan barista. Disaat yang bersamaan inovasi produk kopi beserta turunannya juga perlu diperkenalkan secara luas. Ada olahan kayu kopi, teh karas, olahan makanan berbasis kopi, produk kecantikan dengan bahan kopi, dan masih banyak lagi.
Hal ini perlu dilakukan untuk diversifikasi atau menyebarkan investasi pendapatan masyarakat Gayo yang mayoritas bergantung dari kopi.
Fun Cupping Bersama Para PesertaKegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi antara Hendrika dengan para peserta. Sebelum ditutup, Win Denny, selaku Quality Control Gayo Harvest Coffee, dan Sakinah, pemilik Ruang Roastery, memandu para peserta untuk fun cupping.
Dimana para peserta berkesempatan untuk mencicipi berbagai macam kopi dan diperkenalkan tentang cara penyajian yang tepat, serta menilai kualitas kopi melalui aroma dan rasanya.
Dari kegiatan ini, dapat terlihat bahwa para peserta sangat antusias. Bahkan mereka merasa bahwa inisiatif seperti ini perlu sering dilakukan. Karena selain dapat menambah wawasan dan berbagai insight serta perspective, kolaborasi ini juga mendekatkan mereka dengan para pengusaha kopi lainnya.
Secara keseluruhan, Gayo memiliki potensi yang besar dari kopinya. Bahkan sudah terkenal sampai ke mancanegara. Tak hanya itu, para pemuda Gayo juga pandai mengambil kesempatan untuk memulai bisnis. Hanya perlu satu keyakinan dan satu langkah pasti agar dapat berkecimpung dalam dunia bisnis yang menjanjikan untuk masa depan mereka.
Bersama program Kewirausahaan & Ekonomi Kopi dari YAKG, ayo kita dukung dan dampingi para pelaku UMKM untuk terus maju dan berkembang. Bila Anda ingin turut menghadirkan ruang kolaborasi atau diskusi, kami mengajak Anda untuk bergabung sekarang juga untuk memberikan kontribusi yang nyata.